Image and video hosting by TinyPic
cross my heart

cross my heart

like Jonsi, Jonny makes me fall for him

like Jonsi, Jonny makes me fall for him

(Source: itsjustsecondnature)

(Source: matttaylorr)

You know, in case you were wondering - the person whose calls you always take? That’s the relationship you’re in. I hope you two are very happy together. Nate
beli semua seri ekspresinya untuk kasih tau mood kamu kepada semua pengendara di jalan. *kedip satu mata*

beli semua seri ekspresinya untuk kasih tau mood kamu kepada semua pengendara di jalan. *kedip satu mata*

dia pikir telepon rumah saya hotline apah!

Setting: Rumah. Minggu, 10 April 2011, sekitar jam 10 pagi lewat.

*telepon rumah bunyi*

Saya : *angkat gagang telepon* Halo?

Suara bapa2 : Halo, ieu nuju nge-test handphone, kadangu suara abdi di dinya? Aya?

Saya : [terperanjat, terperangah, tercengang, tercekat] A..ada..

Suara bapa2 : Oh, nuhun atuh nya! Hayu! *menutup telepon*

Saya : *menaruh gagang telepon* *terpana*

Every time I fall in love I become absolutely, pathologically obsessed. The moment that you have what you want, and you’re not totally ready for it, you become obsessed with the idea that you don’t deserve it. Sara Quin (via distantnoninsistant)

(Source: jijie-jurassic, via groundsforrecourse)

The Headless Strongstress

Ahoy, Amigo!

Hari ini saya mau nyoba ripiu yah. Hyuk.

Ini albumnya Tika and the Dissidents, judulnya The Headless Strongstress. Alhamdulillah, saya dapat gratis album digitalnya, dapet unduh dari salah satu web tempat download musik-musik indie. Sudah lama saya biarkan nganggur, engga saya dengar. Tiba-tiba suatu hari, saya dengerin aja lagunya, bosen dengerin John Mayer dan Michael Buble mulu, kali-kali pengen denger female vox selain Hollywood Nobody atau C.U.T.S. Setelah telinga saya digauli suaranya Frau dan denting pianonya itu, saya masukin tracks-nya Tika di winamp, saya dengar satu-satu. Awalnya saya kurang ngerti, karena karya yang bagus itu emang sulit dicerna. Satu-dua-tiga-empat kali ngedengerin, barulah saya mulai jatuh cinta sama Tika.

Kalau dari segi musik, Tika mengusung banyak genre, jadi satu album itu multi genre lah ceritanya (ceuk saya mah). Trip-hop, jazz, sampai waltz. Easy listening sih engga, tapi terlalu bareurat juga engga.

Yang saya suka itu, tema yang diangkat Tika. Dari pembelaan terhadap kaum buruh, homoseksual, sampai bahas kehidupan wanita pekerja seksual. Kalau bisa dibilang, Tika banyak berbicara tentang kelompok-kelompok minoritas, kelompok-kelompok yang inferior di masyarakat kita.

Seharusnya saya tahu sejak lama tentang Tika, secara album ini juga dirilis 2 tahun yang lalu, dan Tika sendiri sudah berkancah semenjak tahun 2005. Seharusnya ada yang menegur saya dengan muka meremehkan “sudah dengar lagu-lagunya??”, terus bikin saya jadi malu, tapi engga apa-apa saya baru tau sekarang juga, karena kata Tika: “teman, jangan jadikan seni sekelas dengan infotainment!”

Jadi, teman, dengarkanlah Tika.

Tika. (Source: last.fm)

—————————————————————————————————————

Photo Source: [http://wastedrockers.files.wordpress.com/2009/07/tika-headless-strongstress.jpg?w=424&h=604]

More about Tika and the Dissidents: [http://www.myspace.com/tikamusic]

(Source: arch1medes, via niviarlinda)

anddontthekidsjustloveit:

From Camera Obscura’s I Need All The Friends I Can Get.

anddontthekidsjustloveit:

From Camera Obscura’s I Need All The Friends I Can Get.

(via grrlyboy)

Aloha Amigo!

Berhubung habis baca note teman saya di Facebook tentang buang sampah sembarangan, saya jadi ingat dulu waktu saya masih SD, sekolah saya menerapkan peraturan tentang isu buang sampah sembarangan. Iya, siapapun yang buang sampah sembarangan, sekecil apapun sampah itu, bakal dijerat denda. Dendanya Rp 500.

Pernah sekali waktu saya masih SD, saya buang sampah sembarangan di depan teman-teman saya. Sampah plastik yang disobek kalau kita misalnya mau makan batagor yang dibungkus, tau ga sampah itu? Ujung bungkus plastik yang kita sobek pakai gigi, terus dibuang gitu aja di mana aja? Tau kan, ngertilah yah, saya asumsikan ngerti weh ya. Kecil kan sampahnya? Saya waktu itu mau minum es teh manis yang dibekukan dan dikemas dalam plastik es *tau kan yah? Dulu jajanan kaya gitu happening banget*. Saya buang aja ujung plastik itu sembarangan. Terus teman-teman saya menegur saya: “Ih, Citra buang sampah sembarangan! Bilangin sama Pa Uun, ntar didenda!”. Saya, yang waktu itu masih duduk di bangku kelas 5 SD, panik dan takut bukan main. Saya takut didenda, Rp 500 waktu saya SD itu berharga sekali, makanya saya langsung buru-buru ambil sampah itu, terus membuangnya ke tempat sampah terdekat, sambil mohon-mohon sama teman-teman saya biar mereka engga ngelaporin saya ke Pa Uun (kepala sekolah).

Praise the Lord, semenjak kejadian itu, Insya Alloh, intensitas saya buang sampah sembarangan semakin berkurang dan berkurang. Saya berusaha keras untuk tidak buang sampah sembarangan, sekecil apapun sampah itu, baik itu plastik penutup botol, bungkus permen, bekas tissue, atau apapunlah itu, saya usahakan kalau belum bertemu tempat sampah, sampah itu terus saya bawa di dalam saku.

Saya suka sedih da, kalau liat mobil bagus yang saya tau itu belinya pake duit yang kaga sedikit, tapi pengemudi atau penumpang di dalamnya buang sampah sembarangan di jalan. Terus saya mikir: ternyata menjadi kaya itu engga menjamin seseorang lepas dari ‘kekumuhan’ yang di sini artinya buang sampah sembarangan.

Saya juga sedih sekali denger omongan orang: “buat apa dibersihin, biar aja, kasian tukang bersih-bersih nanti engga ada kerjaan”. Kenapa sampai ada yang mikir kaya gitu? Jadi maksudnya itu kita membantu tukang bersih-bersih supaya ada kerjaan? Berarti seharusnya kita biarin aja maling-maling dan penjahat-penjahat itu berkeliaran, engga usah ada kejahatan yang dicegah, biar aja, biar polisi ada kerjaan. Kaya gitu? Demi Alloh da saya mah sedih.

Jadi kalau menurut saya, setiap orang itu adalah tukang bersih-bersih, pun kita semua polisi buat diri kita masing-masing. Jadi, buang sampahnya jangan sembarangan yah, mamen, kita semua tau kita dididik dalam budaya “Kebersihan adalah sebagian dari Iman”, tapi kayanya harus ditambahin lagi: “Kebersihan adalah simbol peradaban”. Kalau kita ngaku orang beradab, yuk kita buang sampah pada tempat yang sudah disediakan. Mulai dari diri sendiri.

*nulis tulisan ini, entah kenapa saya merasa tua sekali jadinya hahahahahaha. Anyway, have a glorious weekend, Mate. =)

Homogenic - Seringan Awan

Di sini semua berawal
Walau seribu tanya bicara
Terbungkam oleh pesona

Tanpa arah, semakin jauh
Ku bertahan
Haruskah ku hilang, tanpa pesan
Akankan ku rindu, semua kesan

Sentuhlah hatiku, rasakannya berbeda
Rengkuhlah pikirku, bawa ku ke duniamu
Dengarlah harapku, akankah kau mengerti
Bila hadirmu buat hatiku, seringan awan

Di sini semua terungkap
Walau nyata enggan berkata
Terbungkam oleh prahara

Tanpa arah, semakin jauh
Ku bertahan
Haruskah ku hilang, tanpa pesan
Akankan ku rindu, semua kesan

Sentuhlah hatiku, rasakannya berbeda
Rengkuhlah pikirku, bawa ku ke duniamu
Dengarlah harapku, akankah kau mengerti
Bila hadirmu buat hatiku, seringan awan

Sentuhlah hatiku, rasakannya berbeda
Rengkuhlah pikirku, bawa ku ke duniamu
Dengarlah harapku, akankah kau mengerti
Bila hadirmu buat hatiku, seringan awan

aidayasmin:

ohsheena:
melikdaniel:
Women accounted for 85% of the victims of intimate partner violence, men for approximately 15%
Damn, they’re wearing HEELS!?!
Real men.
Beautiful men are beautiful. Real men, love ♥

waaaaaa… sweeeeeeeet, guuuuuyyyysssss!!!!

aidayasmin:

ohsheena:

melikdaniel:

Women accounted for 85% of the victims of intimate partner violence, men for approximately 15%

Damn, they’re wearing HEELS!?!

Real men.

Beautiful men are beautiful. Real men, love ♥

waaaaaa… sweeeeeeeet, guuuuuyyyysssss!!!!